BANJARMASIN [Visipen] – Beberapa anak kecil berseragam olahraga
dan memanggul ransel mengerumuni sebuah mobil bercat biru yang terparkir
di halaman SMK Negeri 2 Banjarmasin di Jln Brigjend Hassan Basry, Kamis
(19/9) tengah hari.
Di bagian depan mobil, ada tulisan Mobil Pusat Layanan Internet
Kecamatan. Kedua sisi mobil itu dindingnya terbuka. Di sana ada rak
panjang dan diatasnya berderet sejumlah laptop. Di depan tiap laptop,
diletakkan kursi.
Anak-anak TK Bina Nusantara yang menunggu jemputan itu berebut
menduduki kursi. Mereka kemudian tampak asyik memainkan game yang
diinstal di laptop. Kebetulan sekolah mereka berada di lingkungan SMKN
2.
Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan atau MPLIK ini merupakan bantuan
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI dan
dipinjamkan kepada Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika
(Dishubkominfo) Provinsi Kalimantan Selatan sejak tahun 2012.
Pengadaan mobil ini tujuan utamanya melayani masyarakat umum yang
berada di daerah-daerah kecamatan yang belum terjangkau oleh fasilitas
internet. Tapi kalau melihat MPLIK yang parkir di halaman SMKN 2
Banjarmasin yang berada di pusat kota, tentu tidak sesuai dengan tujuan
itu.
Apalagi, menurut pengelola, selama setahun ini mobil itu lebih banyak
diam daripada bergerak. MPLIK yang dipinjamkan ke Dishubkominfo Kalsel
diserahkan pengelolaannya ke komunitas Relawan TIK Kalsel.
Komunitas ini
bergiat di upaya pemasyarakatan teknologi informasi dan komunikasi,
termasuk internet sehat. Sekretaris Relawan TIK Ari Rahman mengatakan, mobil hanya sesekali
dipakai untuk kegiatan sosialisasi internet sehat. “Masalah anggaran,
jadi stand by saja di SMKN 2. Kami sih ingin ke pelosok-pelosok,”
tuturnya.
Tenaga operator tidak digaji dan memanfaatkan para siswa yang magang.
Sedangkan beban listrik ditanggung sekolah. “Kita tidak mau hanya
karena masalah anggaran, mobil dikembalikan. Sayang, mobilnya canggih,
lebih baik dimanfaatkan,” imbuhnya.
Tapi akhirnya yang memanfaatkan fasilitas mobil itu kebanyakan orang-orang di lingkungan sekolah saja. Selain Dishubkominfo Kalsel, Kemenkominfo RI juga mengalokasikan lima
unit MPLIK untuk Kota Banjarmasin. Tapi sejak beberapa bulan lalu,
kelima mobil tidak tampak lagi berkeliaran. Usut punya usut, ternyata
Dishubkominfo Kota Banjarmasin telah mengembalikan semua mobil tersebut
ke vendor.
“Kami melihat mobil itu tidak banyak dibutuhkan oleh warga Kota
Banjarmasin. Mengingat di sini hampir semua masyarakat sudah bisa
mengakses internet,” ujar Kepala Dishubkominfo Kota Banjarmasin M
Kasman.
Ini hasil evaluasi hampir setahun mobil beroperasi. Sejak ujicoba bulan
Januari 2012, dan mulai diserahterimakan secara resmi dan dioperasikan
pada 6 Februari 2012. Kendala lain soal anggaran yang minim dari
pemerintah pusat untuk operasional mobil.
“Mobil baru bisa dihibahkan setelah empat tahun. Selama masih milik
pemerintah pusat, maka menurut BPK (Badan Pemeriksa Keuangan, Red)
pemerintah pusat yang bertanggung jawab untuk operasionalnya,”
sambungnya.
Ditambahkan Kasi Data Elektronik Amin Hidayatullah, sebenarnya di awal
Kota Banjarmasin tidak masuk dalam penjatahan MPLIK. Bersama beberapa
kota besar lain, dianggap akses internet sudah menjangkau seluruh
masyarakatnya.
“Tapi inisiatif pemprov untuk dimasukan untuk
pemerataan,” tambahnya.
Dalam perjalanannya, ada beberapa kondisi yang menyebabkan mobil tidak
bisa berfungsi maksimal. Mulai dari bandwith yang kecil sehingga koneksi
internet sangat lelet, hanya 256 kbps dan harus dibagi enam komputer.
Lalu, Kemenkominfo hanya menanggung biaya operasional empat jam perhari
selama 48 bulan melalui vendor. Termasuk dalam biaya operasional adalah
bahan bakar minyak (BBM), sewa mobil, sewa komputer, sewa bandwith, dan
upah operator. BBM pun dibatasi hanya Rp 150 ribu perbulan untuk lima
mobil.
“Mau menarik biaya dari masyarakat, buka Facebook saja lambat sekali. Orang lebih milih ke warnet,” tukasnya.
Kemudian, setelah setahun mobil ada yang mengalami kerusakan dan
memerlukan pemeliharaan. Tapi menurutnya pihak vendor yang bertanggung
jawab memelihara mobil lambat dalam merespons. Perbaikan pun menunggu
hingga berbulan-bulan. Sedangkan pemko tidak diperkenankan mengeluarkan
pendanaan.
“Akhirnya kita diskusikan, kalau biaya yang dikeluarkan tidak sebanding
dengan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, lebih baik dikembalikan
saja,” imbuhnya.
Kebetulan, ada daerah lain di Kalsel yang meminta tambahan MPLIK dan
dinilai lebih membutuhkan. Hingga Pemko Banjarmasin memutuskan
mengembalikan kelima unit MPLIK untuk direlokasi ke daerah lain
tersebut.
Lagipula, ia melanjutkan, pemanfaatan MPLIK oleh masyarakat di
Banjarmasin tidak sesuai tujuan utama. Soalnya para pengguna lebih
banyak memanfaatkan untuk hiburan, misalnya mengakses jejaring sosial
seperti Facebook.
“Harusnya kan untuk mencari informasi, mendukung e-commerce untuk UKM, dan sejenisnya,” ucapnya. Bahkan, ada pula yang menyalahgunakan untuk mengakses konten
pornografi. Misalnya, seperti penuturan Ketua RT 30 Kelurahan Sungai
Andai Bambang Santoso, yang pernah memergoki beberapa remaja nonton
bareng film biru di MPLIK yang mangkal di depan komplek.
“Sekitar seminggu saya intai, sekitar jam sepuluh atau sebelas malam,
kok banyak anak-anak remaja ngumpul? Ya saya tegur, kan harusnya mobil
itu untuk pendidikan. Setelah itu sih tidak ada lagi,” kisahnya.
Padahal, MPLIK sudah dilengkapi aplikasi internet sehat yang memblok
akses ke situs-situs negatif, baik yang berbau SARA maupun pornografi.
Hal itu diamini Sekretaris Relawan TIK Ari Rahman.
“Tapi mungkin ada saja yang bisa mengakali aplikasi itu, sehingga bisa disalahgunakan,” katanya.
Penyediaan MPLIK di wilayah Kalsel dilaksanakan oleh PT Aplikanusa
Lintas Arta selaku penyedia jasa sekaligus penanggung jawab operasional
MPLIK. Perwakilan PT Aplikanusa Lintas Arta di Banjarmasin, Andi, yang
dihubungi lewat telepon selularnya mengatakan, tak bisa memberi
keterangan saat diminta konfirmasi soal kendala-kendala operasional
MPLIK di Banjarmasin.
Ia sempat meminta waktu untuk berkoordinasi dengan manajemen perusahaan
di kantor pusat di Jakarta. Tak lama, ia menghubungi balik dan
menyampaikan bahwa keterangan hanya bisa diberikan oleh kantor pusat. Ia
meminta Radar Banjarmasin menyampaikan pertanyaan resmi melalui email
untuk diteruskan ke kantor pusat.
“Di daerah lain kan banyak masalah ya MPLIK ini, walaupun vendornya
bukan kami. Banyak informasi yang simpang siur, jadi perusahaan ingin
informasi satu pintu saja. Kalau di Kalsel sih MPLIK relatif tidak
banyak masalah,” urainya.
Total alokasi MPLIK untuk Kalsel dari Kemenkominfo pada tahun 2012
sebanyak 84 mobil. Awalnya, pembagian perkota dan kabupaten ditentukan
oleh kementerian. Tapi Dishubkominfo Kalsel melobi agar pembagian
dilakukan sendiri oleh pemerintah provinsi agar tepat sasaran.
Kasi Aplikasi Telematika Dishubkominfo Kalsel Bachroem Aji membeberkan,
pembagian dilakukan dengan asumsi satu mobil melayani 2-3 kecamatan.
Khusus untuk Banjarmasin, menurutnya alokasi sebanyak lima unit MPLIK
itu dari pusat.
“Kita hanya usul untuk kabupaten. Misalnya, Kabupaten Banjar, tadinya 15 unit dikurangi jadi tujuh,” ujarnya.
Setelah setahun, beberapa daerah ada yang mengembalikan mobil tersebut
ke vendor. Dari data vendor yang disampaikan ke Dishubkominfo,
Banjarmasin yang mengembalikan seluruh mobil yang berjumlah lima unit.
Sedangkan Banjarbaru, dari lima unit dikembalikan dua unit. Kemudian,
Tanah Bumbu mengembalikan satu unit dari alokasi tujuh unit, dan Barito
Kuala mengembalikan tiga unit dari tujuh unit. “Setelah setahun
dievaluasi, mungkin pelayanan tidak maksimal,” katanya.
Tapi soal kendala anggaran, seperti yang dialami di Banjarmasin, ia
tidak tahu karena urusannya antara pemerintah daerah setempat dengan
vendor.
Untuk mobil yang dikembalikan, selanjutnya direlokasi ke daerah lain
yang lebih memerlukan, kebanyakan dikirim ke Kotabaru. Di sana, menurut
Bachroem, pengelolaan MPLIK lebih banyak diserahkan ke masyarakat.
“Apakah mobilnya benar-benar jalan, kami tidak tahu, tidak ada anggaran untuk monitoring,” sambungnya.
Disinggung MPLIK Dishubkominfo Provinsi Kalsel yang hanya terparkir di
halaman SMKN 2 Banjarmasin, ia mengatakan bahwa fungsi mobil itu
sebenarnya memang lebih untuk back up saja, misalnya dalam
kegiatan-kegiatan sosialisasi.
“Soalnya kalau dipakai operasional hari-hari, kami tidak punya tenaganya. Makanya dimanfaatkan Relawan TIK,” ucapnya.
Untuk anggaran, menurutnya tidak ada masalah karena ditanggung vendor.
Tapi selama ini pihaknya belum pernah meminta, misalnya untuk BBM, lebih
mengandalkan pihak yang mengundang untuk melakukan sosialisasi.
Sementara itu, selain MPLIK, Kalsel juga mendapat jatah satu unit Boat
Community Access Point (BCAP) atau kapal internet. Kapal canggih untuk
membawa akses internet ke daerah pesisir ini merupakan satu-satunya di
Indonesia, dilengkapi satelit dan 10 unit komputer. Operasionalnya
didanai pemprov, meski proses hibah masih belum selesai. Sayangnya,
mesin genset buatan Cina yang dipakai bermasalah dan hanya mampu
bertahan tiga jam.
“Kalau jalan harus bawa genset cadangan, genset di mobil yang kita
bawa. Operasionalnya setengah bulan sekali, tiap jalan biasanya antara
empat sampai lima hari,” tuturnya. (naz). (Radar Banjar, 21.9)